Perlindungan Diri dari Kanker Serviks: Pencegahan, Gejala, dan Peran HPV

Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua penyebab kematian pada perempuan setelah kanker payudara. Secara global, kanker serviks berada di peringkat keempat kanker paling umum pada perempuan.
Meski demikian, kanker serviks termasuk salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan diobati, terutama jika terdeteksi sejak dini.
Pencegahan kanker serviks dapat dilakukan melalui vaksinasi HPV, skrining rutin, serta perawatan lanjutan bila diperlukan.
Hubungan HPV dan Kanker Serviks

Hampir 99% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus HPV (Human Papillomavirus). Hampir semua orang yang aktif secara seksual berisiko terinfeksi HPV pada suatu waktu dalam hidupnya.
Sebagian besar infeksi HPV bersifat sementara dan akan hilang dalam 1–2 tahun karena sistem kekebalan tubuh mampu mengendalikannya. Infeksi jangka pendek ini tidak menyebabkan kanker.
Namun, jika infeksi HPV berisiko tinggi menetap selama bertahun-tahun, virus dapat menyebabkan perubahan sel serviks yang berkembang menjadi lesi prakanker.
Bila tidak terdeteksi dan ditangani, lesi ini dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Risiko infeksi HPV berisiko tinggi meningkat pada individu yang:
- Aktif secara seksual di usia muda (terutama <18 tahun)
- Memiliki banyak pasangan seksual
Apa itu HPV?
HPV (Human Papillomavirus) adalah kelompok virus yang terdiri dari lebih dari 200 jenis. Sebagian HPV ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral.
HPV yang ditularkan melalui hubungan seksual dibagi menjadi dua kelompok:
- HPV risiko tinggi, yang dapat menyebabkan kanker.
- HPV risiko rendah, yang umumnya tidak menyebabkan kanker.
Terdapat 12 jenis HPV risiko tinggi, yaitu: HPV 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59.
Dari kelompok ini, HPV 16 dan 18 menyebabkan sebagian besar kasus kanker terkait HPV.
Sementara itu, HPV risiko rendah jarang menyebabkan kanker, tetapi dapat menimbulkan kutil kelamin di area genital, anus, mulut, atau tenggorokan.
Bila kutil muncul di saluran pernapasan, kondisi ini dikenal sebagai papilomatosis pernapasan, yang dapat mengganggu pernapasan.
Gejala kanker serviks

Pada stadium awal, kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin sangat penting.
Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami:
- Perdarahan atau keputihan yang tidak normal
- Nyeri saat berhubungan seksual
- Nyeri punggung bawah atau nyeri panggul
- Pembengkakan pada kaki
- Gangguan buang air kecil atau buang air besar
Faktor risiko yang meningkatkan perkembangan kanker serviks
Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang dengan infeksi HPV berisiko tinggi berkembang menjadi kanker serviks, antara lain:
1. Sistem kekebalan tubuh lemah
Risiko meningkat pada individu yang:
- mengalami infeksi HIV atau penyakit yang melemahkan imunitas;
- mengonsumsi obat penekan sistem imun. Misalnya, pasca-transplantasi, terapi autoimun, atau kanker.
2. Merokok dan paparan asap rokok
Merokok maupun terpapar asap rokok pasif dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Semakin lama dan sering paparan terjadi, risikonya semakin tinggi.
3. Faktor reproduksi
Penggunaan pil KB jangka panjang dan melahirkan banyak anak dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker serviks, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
4. Obesitas
Obesitas dapat menyulitkan pemeriksaan skrining, sehingga lesi prakanker lebih mudah terlewat.
Kanker serviks dapat dicegah

Hampir semua kanker serviks dapat dicegah melalui kombinasi vaksinasi HPV, skrining rutin, dan gaya hidup sehat.
1. Vaksinasi HPV
Vaksin HPV merupakan cara yang aman dan efektif untuk mencegah kanker serviks. Vaksin ini direkomendasikan untuk perempuan dan laki-laki usia 9–45 tahun.
Vaksin Gardasil 9 melindungi dari:
- Tujuh jenis HPV penyebab kanker (16, 18, 31, 33, 45, 52, 58)
- Dua jenis HPV penyebab kutil kelamin (6 dan 11)
Perlu diketahui, vaksin HPV tidak mengobati infeksi HPV yang sudah ada, tetapi mencegah infeksi baru.
2. Waktu pemberian vaksin HPV
Efektivitas vaksin paling optimal bila diberikan sebelum aktif secara seksual. Individu yang sudah aktif seksual tetap dapat divaksin, meski manfaatnya mungkin lebih terbatas.
3. Pemeriksaan kanker serviks
Karena vaksin tidak melindungi dari semua jenis HPV, skrining rutin tetap diperlukan.
Jenis pemeriksaan yang dianjurkan:
- Pap smear mulai usia 21 tahun, setiap 3 tahun
- Usia ≥30 tahun: kombinasi tes HPV dan Pap smear setiap 5 tahun
- Individu aktif seksual dapat melakukan Pap smear setiap 1–2 tahun
4. Melakukan hubungan seksual aman
Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan HPV, meski tidak sepenuhnya mencegahnya. Menghindari berganti-ganti pasangan seksual juga menurunkan risiko infeksi HPV.
HPV dapat menular melalui aktivitas seksual non-penetratif, seperti seks oral, anal, atau penggunaan mainan seks.
5. Menjaga kebersihan vagina
Menjaga kebersihan area intim membantu mendukung kesehatan serviks, antara lain dengan:
- membersihkan area vagina dengan air bersih setelah BAK/BAB;
- menghindari penggunaan sabun pada area vagina;
- mengeringkan area intim setelah membersihkannya;
- menggunakan pakaian dalam berbahan katun dan tidak terlalu ketat
6. Pola hidup sehat untuk mendukung imunitas
Gaya hidup sehat berperan penting dalam menurunkan risiko kanker serviks, termasuk:
- konsumsi makanan kaya vitamin A, C, E, folat, dan kalsium;
- asupan antioksidan dari buah dan ikan;
- rutin berolahraga;
- mengelola stres dengan baik.
Kanker serviks bukanlah penyakit yang tidak dapat dicegah. Dengan edukasi yang tepat, vaksinasi HPV, skrining rutin, dan gaya hidup sehat, risiko kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.
Jika Anda ingin melakukan vaksinasi HPV atau berkonsultasi dengan dokter untuk kesehatan reproduksi Anda, kunjungi klinik GWS Medika, klinik kesehatan di Jakarta.



