Yuk, Lengkapi Imunisasi Dasar si Kecil!

oleh dr. Dayu Dwi Deriabullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Bandoro & Kristihandari
Yuk, Lengkapi Imunisasi Dasar si Kecil!
Yuk, Lengkapi Imunisasi Dasar si Kecil!

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, pada kurun 2018-2023 lebih dari 1,8 juta anak Indonesia belum mendapat imunisasi rutin lengkap. Apa bahayanya?

Imunisasi merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi anak-anak dari berbagai penyakit berbahaya. Memberikan imunisasi dasar lengkap sejak lahir menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh mereka.


Mengapa imunisasi penting?



  1. Melindungi anak dari penyakit berbahaya
    Imunisasi membantu membangun kekebalan tubuh anak terhadap penyakit menular, seperti campak, difteri, tetanus, polio, dan tuberkulosis.

  2. Meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat
    Imunisasi tidak hanya melindungi anak-anak dari penyakit, tetapi juga membantu melindungi orang lain di sekitar mereka, termasuk keluarga dan anggota komunitas. Imunisasi juga dapat menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga meminimalkan risiko penyebaran penyakit.

  3. Mendukung tumbuh kembang anak
    Imunisasi membantu anak-anak tumbuh dan berkembang dengan optimal dan mencapai potensi mereka.

Program imunisasi di Indonesia


Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memastikan semua anak mendapatkan imunisasi lengkap. Kementerian Kesehatan telah menerapkan program imunisasi nasional yang terstruktur dan komprehensif untuk menjangkau anak-anak dari usia 0 hingga 18 tahun.


Imunisasi dasar lengkap terdiri dari beberapa jenis vaksin, yaitu polio, BCG, DPT, dan lainnya. Imunisasi tersebut harus diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Kementrian Kesehatan dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).


Jadwal pemberian imunisasi dasar





Macam-macam vaksin


1. Hepatitis B

Vaksin hepatitis diberikan kepada bayi untuk mencegah perkembangan penyakit hati kronis dan kanker hati. Imunisasi hepatitis B (HB) monovalent diberikan kepada bayi segera setelah lahir dengan BBLR >2000 gram. Untuk bayi prematur atau berat lahir <2000 g, vaksin HB diberikan setelah bayi berusia satu bulan atau saat pulang rawat dari rumah sakit sesuai anjuran AAP.
 

2. Bacillus Calmette Guerine (BCG)

Vaksin BCG diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berusia 1 bulan. Pada usia 3 bulan atau lebih BCG diberikan bila uji tuberkulin negatif.
 

3. Polio

Polio (poliomielitis) terutama menyerang anak usia < 5 tahun. Polio menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan total.
 

4. Difteria, Tetanus, Pertusis (DTP)

Vaksin DPT dapat melindungi anak dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus dan mencegah komplikasi yang disebabkan ketiga penyakit tersebut. Vaksin ini diberikan sebelum anak berusia 1 tahun.

5. Haemophilus influenzae b (Hib)

Vaksin Hib diberikan dalam bentuk kombinasi sesuai jadwal vaksin pentavalen atau heksavalen DTwP atau DTaP. Vaksin ini diberikan pada usia 2,4,6 bulan atau 2,3,4 bulan, dan usia 18 bulan.

6. Pneumococal Conjugate Vaccine (PCV)

Vaksinasi PCV merupakan salah satu jenis vaksin untuk mencegah infeksi bakteri Pneumokokus yang menyebabkan pneumonia dan meningitis. Vaksin ini bekerja dengan merangsang sistem imun tubuh untuk memproduksi antibodi yang berfungsi melawan infeksi bakteri Pneumokokus.

7. Rotavirus

Rotavirus umumnya menyebabkan diare dan muntah-muntah pada bayi dan anak kecil. Pembatasan usia pada vaksin rotavirus berdasarkan pertimbangan adanya peningkatan prevalensi intususepsi dengan bertambahnya usia.

8. Influenza

Influenza adalah penyebab paling umum infeksi saluran pernapasan atas akut di seluruh dunia.
 

9. Campak Rubella (MR) dan Campak Rubella Mump (MMR)

Vaksin MR mulai disuntikkan pada umur 9 bulan, dosis kedua dapat diberikan saat anak berumur umur 15-18 bulan, dan dosis ketiga saat anak berumur 5-7 tahun.


10. Varisela

Varisela, umumnya dikenal sebagai cacar air, disebabkan oleh virus Varicella-zoster. Varicella umum terjadi dan sangat menular serta menyerang hampir semua anak yang rentan sebelum masa remaja.

11. Hepatitis A

Gejala awal Hepatitis A pada masa prodromal antara lain demam ringan, mual, muntah, nafsu makan menurun, dan nyeri perut.
 

12. Tifoid

Risiko demam tifoid lebih tinggi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi. Vaksin tifoid merupakan vaksin polisakarida dan kurang imunogenik bila diberikan pada usia kurang dari dua tahun. Diulang satu dosis setiap tiga tahun.


13. Japanese Encephalitis (JE)

Pemberian vaksin disuntikkan subkutan mulai usia 9 bulan untuk anak-anak yang tinggal di daerah endemis bersama imunisasi MR, atau yang akan bepergian ke daerah endemis selama satu bulan atau lebih atau di daerah dengan KLB JE. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan dosis booster 1-2 tahun kemudian.


Pada umumnya efek samping vaksinasi bersifat ringan, berupa ruam, demam ringan, dan nyeri di area suntikan. Efek samping berat seperti sesak napas, trombositopenia, Hypotonic hyporesponsive episode (HHE), hingga reaksi sistemik seperti anafilaksis sangatlah jarang terjadi. Namun, tetaplah menjadi hal yang penting bagi tenaga kesehatan dan orang tua memperhatikan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) setelah vaksinasi.


Imunisasi lengkap dapat menyelamatkan nyawa anak dan memberikan masa depan yang lebih sehat. Pastikan anak Anda mendapatkan imunisasi lengkap sesuai dengan jadwalnya.


Jadwal imunisasi dapat saja berbeda dari rekomendasi pada umumnya pada keadaan tertentu, seperti imunisasi rutin yang tertunda, bepergian ke daerah endemis, kelompok risiko tinggi, pasien dengan imunokompromais dan imunodefisiensi, pasien dengan riwayat alergi berat dan kondisi klinis lainnya. Karena itu, penting untuk mengonsultasikan jadwal imunisasi kepada dokter apabila terdapat kondisi khusus.


Kunjungi Klinik GWS Medika terdekat untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap bagi buah hati Anda. Anda juga dapat klik WhatsApp untuk mendapatkan layanan konsultasi atau menjadwalkan imunisasi. Persiapkan masa depan mereka dengan memberikan perlindungan sejak dini.

ReferensiCDC. Diakses pada 2024. Rotavirus. European Journal of Business and Management Research. Diakses pada 2024. Implementation of Full Time Equivalent Method in Determining the Workload Analysis of Logistics Admin Employees of PT X. IDAI. Diakses pada 2024. Lembar Fakta Poliomielitis, Rubella, dan Campak. Infokes. Diakses pada 2024. Imunisasi Dasar Lengkap. Medscape. Diakses pada 2024. Pediatric Influenza: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. UK Health Security Agency. Diakses pada 2024. Pre-school A guide to immunization for UPDATED SCHEDULE FOR 2022. UNICEF. Diakses pada 2024. Childhood diseases. WHO. Diakses pada 2024. Recommended Routine Immunizations for Children.; 2024. WHO. Diakses pada 2024. World Health Organization Department of Communicable Disease Surveillance and Response.