Hepatitis B dan C: Manakah Lebih Berbahaya?

oleh Agnes Krisantibullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Bandoro
Hepatitis B dan C: Manakah Lebih Berbahaya?
Hepatitis B dan C: Manakah Lebih Berbahaya?

Peradangan hati akibat infeksi virus atau agen non penginfeksi, alias hepatitis, menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Meski semua menyerang hati, kelima jenis hepatitis (A—E) memiliki mode penularan, keparahan penyakit, penyebaran geografis, dan metode pencegahan yang berbeda. Masihkah hepatitis B dan C merupakan jenis yang paling berbahaya?

Hati berperan membersihkan darah, melawan infeksi, dan menyimpan energi. Hepatitis dapat mengancam fungsi-fungsi penting ini. Bahkan mampu merusak organ tersebut secara fisik. Dari lima tipe virus hepatitis yang ada, hepatitis B dan C mendapat perhatian yang cukup besar karena dapat berkembang menjadi penyakit kronis, dan penyebarannya pun cukup serupa (melalui cairan tubuh, seperti hubungan seksual atau penggunaan jarum suntik bersamaan).


Tentang hepatitis B dan C


Mayoritas kasus hepatitis B dan hepatitis C menyebabkan penyakit kronis. Jika tidak mendapat penanganan yang baik, hepatitis dapat menimbulkan potensi terjadinya sirosis hati dan kanker hati yang mengarah pada kematian. WHO memperkirakan 354 juta orang di seluruh dunia hidup dengan hepatitis B atau C. Namun, pengujian (testing) dan pengobatan bagi penderita hepatitis masih di luar jangkauan.


Gejala umum hepatitis, antara lain demam, nyeri otot, pusing, mual, hilang nafsu makan, muntah, dan nyeri perut. Selain itu, feses yang tampak berwarna abu-abu, urine berwarna gelap, dan penyakit kuning—menguningnya kulit atau bagian putih mata (sklera)—juga bisa menjadi penanda.


Bagaimana dengan hepatitis B dan C?


  • Hepatitis B dapat menimbulkan gejala awal seperti yang disebutkan di atas. Namun, virus ini juga dapat menginfeksi seseorang tanpa mereka ketahui. Artinya, tanpa memunculkan gejala atau sering disebut silent infection atau infeksi senyap. Infeksi dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Orang yang terinfeksi tanpa sadar menyebarkan virus melalui kontak langsung dengan darah atau secara seksual.

    Virus hepatitis B (HBV) diam-diam menyerang hati selama bertahun-tahun. Menimbulkan kerusakan yang tak terdeteksi karena biasanya hanya sedikit atau sama sekali tidak menunjukkan gejala. cara terbaik untuk mengetahui keberadaan HBV secara cepat adalah melakukan tes darah.

    Infeksi hepatitis B dapat bersifat akut (kurang dari 6 bulan) atau kronis (lebih dari 6 bulan). Jika mendapat penanganan yang baik, penderita hepatitis B akut dapat terhindar dari berkembangnya penyakit menjadi hepatitis B kronis.

  • Hepatitis C dapat menimbulkan gejala dalam tubuh. Namun, keberadaannya juga sering kali tidak disadari. Atau, gejala biasanya disalahartikan sebagai flu.

    Hepatitis C mudah menyebar melalui kontak dengan darah terinfeksi, kontak seksual, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian (termasuk tato, piercing, dan akupuntur yang tidak steril). Ibu yang terinfeksi juga berpotensi menurunkan penyakit kepada bayi yang dilahirkan dan disusui.

    Hepatitis C akut yang tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menjadi kronis. Hanya 15% dari seluruh kasus hepatitis C akut yang menunjukkan gejala. Satu-satunya cara mengonfirmasi keberadaan HCV adalah melalui tes darah.

Pencegahan



Menurut WHO, sekitar 4,5 juta kematian dini akibat hepatitis di negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat dicegah melalui vaksinasi, tes diagnostik, obat-obatan, dan edukasi. Dalam periode 2016—2030 semua negara anggota WHO akan berupaya bersama menurunkan kasus infeksi hepatitis baru sebesar 90% dan kematian sebesar 65%.


Tipe hepatitis A dan B dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin hepatitis A dapat diberikan mulai usia ≥ 12 bulan, diberikan dalam 2 dosis dengan interval 6-18 bulan. Vaksin hepatitis B dasar diberikan empat kali, yaitu kurang dari 24 jam setelah bayi lahir, saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Booster dapat diberikan pada umur 18 bulan. Sementara itu, vaksin untuk tipe hepatitis lain masih dalam tahap pengembangan.


Tak semudah hepatitis A yang bisa menular lewat makanan dan air, perlu kesadaran lebih untuk mencegah infeksi virus hepatitis B dan C. Hindarilah hal-hal penyebab infeksi. Misalnya, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, dan mempraktikkan hubungan seksual yang aman dan setia, melakukan vaksinasi, serta dan rutin melakukan skrining.


Tes diagnostik



Tes darah atau serologi adalah cara utama untuk mengonfirmasi keberadaan virus hepatitis. Prinsip tes ini adalah mendeteksi adanya respons imun dari antibodi (agen yang melawan infeksi) atau adanya antigen (virus terkait). 


Ada tiga jenis tes serologi, yaitu rapid diagnostic tests (RDTs) atau enzyme immunoassays (EIAs) berbasis laboratorium, chemiluminescence immunoassays (CLIAs), dan electrochemoluminescence immunoassays (ECLs).


Selain itu, ada tes PCR, tes berbasis asam nukleat (nucleic acid testing atau NAT) yang mampu mendeteksi keberadaan virus. Menentukan apakah infeksi aktif, dan apakah orang yang dites mendapat manfaat pemberian antivirus. NAT juga bisa untuk menentukan kapan pengobatan dihentikan.


Perawatan dan pengobatan



Pengobatan untuk hepatitis B akut bersifat suportif dan simtomatik. Penyedia fasilitas kesehatan biasanya merekomendasikan istirahat, serta nutrisi dan minum cukup bagi pasien bergejala ringan. Sementara, pasien bergejala berat disarankan menjalani perawatan di rumah sakit.


Ada beberapa pengobatan untuk pasien hepatitis B kronis. Beberapa obat juga dikembangkan. WHO merekomendasikan agen antivirus yang aktif lawan infeksi HBV dan telah terbukti efektif menekan replikasi HBV, mencegah perkembangan penyakit menjadi sirosis hati, dan mengurangi risiko terbentuknya kanker hati dan kematian.


Perawatan yang bisa diberikan kepada penderita hepatitis C, meliputi evaluasi medis untuk penyakit liver—termasuk perawatan dan monitoring; vaksinasi hepatitis A dan B; skrining dan pencegahan konsumsi alkohol; serta pengujian terhadap risiko HIV.


Koinfeksi hepatitis B, hepatitis C, dan HIV


Hepatitis B dan C sering dikaitkan dengan HIV. Koinfeksi antara virus-virus penyebab penyakit ini mengakibatkan dampak yang sangat mengerikan. Belum lagi, cara penyebaran ketiganya pun mirip, yakni melalui pertukaran cairan tubuh.


Hepatitis akan berkembang lebih cepat dan menyebabkan lebih banyak masalah kesehatan pada orang yang juga memiliki HIV. Di antara orang-orang dengan HIV, penyakit hati karena infeksi HBV dan HCV menjadi penyebab utama kematian yang tidak terkait AIDS.


Kesehatan kita adalah tanggung jawab kita. Karena itu, mari tingkatkan kesadaran menjaga diri sendiri dari infeksi HBV, HCV, hingga HIV.


Terapkan gaya hidup bersih. Makan makanan bergizi. Hindari pertukaran cairan tubuh yang berisiko.


Jika Anda memiliki pertanyaan terkait hepatitis, klik WhatsApp.

ReferensiHealthline. Diakses pada 2023. Hepatitis C vs. Hepatitis B: What The Difference? Hepatitis Foundation. Diakses pada 2023. Why Is Hepatitis B So Dangerous? HIV Gov. Diakses pada 2023. What Are Hepatitis B & C? WHO. Diakses pada 2023. Hepatitis.