Mengapa Ada Benjolan di Payudara Saya?

oleh Kristihandaribullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Zamzam, dr. Koh Hau-Tek & Puspa W. Cahyono
Mengapa Ada Benjolan di Payudara Saya?
Mengapa Ada Benjolan di Payudara Saya?

Ada benjolan di payudara memang mengkhawatirkan. Namun, bukan berarti Anda menderita kanker payudara. Berikut beberapa penyebab umum munculnya benjolan payudara dan langkah-langkah untuk menjaga kesehatan payudara.

Tak perlu panik. Memiliki benjolan di payudara adalah hal biasa baik pada laki-laki maupun perempuan. Sebagian benjolan ini jinak (non-kanker). Benjolan di payudara terjadi karena adanya pembengkakan, pertumbuhan, atau massa di payudara.


Benjolan di payudara biasanya muncul karena jaringan pada payudara merespons terjadinya perubahan hormon. Karena itu, jangan heran, bila tiba-tiba benjolan muncul atau menghilang.


Benjolan payudara dapat muncul pada usia berapa pun. Bayi, remaja, maupun orang dewasa. Bayi laki-laki maupun perempuan saat dilahirkan bisa memiliki benjolan payudara. Ini berasal dari estrogen sang ibu.


Pada anak perempuan berusia 6 tahun atau sekitar usia 9 tahun, muncul benjolan payudara yang umumnya lunak. Sementara, remaja laki-laki juga dapat mengalami pembesaran payudara dan benjolan karena perubahan hormon pada pertengahan pubertas yang akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa bulan.



Kenali jenis-jenis benjolan di payudara




1. Fibroadenoma

Benjolan pada wanita paling sering berupa fibroadenoma atau tumor jinak atau non-kanker yang muncul pada payudara. Benjolan ini dengan mudah bergerak di dalam jaringan payudara dan biasanya keras, halus, atau kenyal. Juga tidak bertambah besar seiring bertambahnya waktu. Umumnya berukuran 1—2 cm dan yang paling besar 5 cm.


Dalam kasus tertentu, seperti benjolan berubah ukuran, dokter mungkin akan menyarankan pengangkatan.


2. Fibrokistik

Adalah kondisi adanya jaringan yang terasa kenyal atau teraba seperti sekumpulan tali. Biasanya tidak menunjukkan gejala khas. Perempuan berusia 20—45 tahun berisiko memiliki fibrokistik.


Fibrokistik paling sering muncul beberapa minggu sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena adanya perubahan hormon. Namun, gejala akan membaik setelah menstruasi dimulai. Ukuran benjolan fibrokistik cenderung berubah dan bisa digerakkan. Mungkin juga akan terasa nyeri di bawah lengan.


3. Kista

Merupakan kantung berisi cairan yang jika diraba akan terasa lembek, seperti balon air. Bisa menimbulkan nyeri, tergantung ukurannya. Kista ini juga menyebabkan puting mengeluarkan cairan berwarna jernih, kuning, atau kecokelatan.


Kista muncul tepat sebelum menstruasi. Diduga akibatnya tingginya hormon estrogen yang memengaruhi perubahan pada jaringan dan kelenjar payudara.


Kista pada payudara juga muncul pada perempuan menjelang menopause, berusia antara 35—50 tahun, dan terutama mereka yang menggunakan terapi penggantian hormon.


Benjolan di payudara bukan satu-satunya tanda kanker payudara. Berikut beberapa gejala lain yang mungkin mengarah ke kanker payudara. 


  • Benjolan di area ketiak.
  • Pembengkakan, kemerahan, atau menggelapnya kulit di atas payudara.
  • Dimpling (semacam lesung pipi) pada kulit di payudara akibat tersumbatnya pembuluh getah bening.
  • Area payudara rata atau berlekuk.
  • Perubahan ukuran atau bentuk payudara.
  • Pembuluh darah menonjol di permukaan payudara .
  • Keluarnya puting secara tiba-tiba.
  • Puting gatal, ruam atau nyeri.
  • Puting terbalik atau melesak ke dalam.
  • Nyeri pada area tertentu payudara.

Jika Anda memiliki gejala-gejala di bawah ini, segera kunjungi dokter.



Pemeriksaan


Ketika Anda memberitahukan adanya benjolan di payudara, dokter mungkin akan menanyakan kapan Anda menemukannya dan apakah Anda merasakan gejala lain.


Awalnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Namun, bila menemukan hal mencurigakan, dokter akan melakukan beberapa tes berikut:


  1. Mammogram: rontgen payudara untuk mengidentifikasi kelainan payudara.
  2. USG: tes yang menghasilkan gambar payudara.
  3. MRI (pencitraan resonansi magnetik): tes untuk mengambil gambar detail payudara.
  4. Aspirasi jarum halus: menggunakan jarum untuk mengambil cairan dari benjolan payudara. Dalam beberapa kasus, USG digunakan untuk memandu jarum. Kista non-kanker hilang saat cairan dikeluarkan. Jika cairan berdarah atau keruh, sampel akan dianalisis oleh laboratorium patologi anatomi.
  5. Biopsi payudara: dilakukan setelah tes-tes di atas.


Periksa payudara Anda sendiri (SADARI)


Indonesia memiliki jumlah penderita kanker payudara terbanyak dibandingkan jenis kanker lain. Kanker payudara juga merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker.


Data Global Cancer Statistics (Globocan) tahun 2020 menyebutkan bahwa jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Penderita kanker payudara yang meninggal mencapai lebih dari 22 ribu jiwa (kemkes.go.id, 2022).


Tujuh puluh persen penderita kanker payudara ditemukan sudah pada stadium lanjut. Padahal, kematian akibat kanker ini dapat dicegah bila rutin melakukan deteksi dini.


Dimulai dari pemeriksaan payudara sendiri sebulan sekali, 3—5 hari setelah menstruasi berakhir. Pada masa ini, payudara sudah tidak terlalu kenyal sehingga menghindari kemungkinan salah menduga bila terdapat benjolan. 


Jika sudah menopause atau menstruasi berhenti, lakukan saja setiap bulan pada tanggal yang sama.


1. Berbaring telentang

Posisi ini membuat Anda lebih mudah merasakan adanya benjolan atau perubahan. Letakkan tangan kanan di belakang kepala. Dengan tiga jari tangan kiri, tekan payudara dengan lembut, tapi kuat. Lakukan gerakan melingkar ke seluruh area payudara.




Remas puting dengan lembut. Perhatikan, apakah ada cairan yang keluar. Sekarang, duduklah, dan rasakan apakah ada benjolan di sekitar ketiak. Setelah selesai dengan payudara kanan, ulangi seluruh pemeriksaan di sisi kiri.


2. Berdiri di depan cermin

Dengan tangan ke bawah di samping tubuh, lihat kedua payudara. Periksa bentuk masing-masing payudara. Perhatikan setiap perubahan pada kulit, seperti lesung pipi atau kerutan.




Lihat juga apakah puting melesak. Lakukan pemeriksaan yang sama dengan tangan berada di atas kepala.


3. Lakukan pemeriksaan rutin

Setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan payudara sendiri, Anda akan terbiasa dengan tampilan dan bentuk payudara Anda.


Pada setiap pemeriksaan, Anda mungkin menemukan sesuatu yang berbeda, seperti benjolan baru, perubahan tekstur kulit, atau keluarnya cairan dari puting.




Jika melihat adanya perubahan, jangan panik. Segera hubungi dokter untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut, dan jika perlu, lakukan pengobatan.


Dokter harus menentukan penyebab benjolan payudara sebelum merencanakan perawatan. Tidak semua benjolan payudara membutuhkan pengobatan.



ReferensiHealthline. Diakses pada 2023. Breast Lump: Causes, Symptoms, and Treatments. Kemkes RI. Diakses pada 2023. Kanker Payudara Paling Banyak di Indonesia, Kemenkes Targetkan Pemerataan Layanan Kesehatan. Mount Sinai. Diakses pada 2023. Breast Lump.