Menjadi Pejuang Kanker Bersama Buah Hati

oleh Kristihandaribullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Zamzam, dr. Koh Hau-Tek & Puspa W. Cahyono
Menjadi Pejuang Kanker Bersama Buah Hati
Menjadi Pejuang Kanker Bersama Buah Hati

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan setiap tahun terjadi 400.000 kasus kanker anak di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada anak rentang usia 5—14 tahun. Sebagian penyebabnya adalah deteksi yang terlambat.

Orang tua mana tidak terkejut saat dokter memvonis buah hati terdeteksi kanker. Peristiwa ini sekejap mengubah sendi kehidupan keluarga: fisik, mental, sosial-ekonomi, dan perilaku. 


Namun, kondisi ini sebaiknya tidak berlarut-larut. Orang tua harus segera bersatu dan bangkit untuk mendukung buah hati menjalani perawatan medis berkelanjutan dari pengobatan, rawat inap, hingga menanggulangi efek samping terapi. Proses ini sering kali memakan waktu tidak sebentar. 


Apakah kanker datang tiba-tiba?


Banyak jenis kanker bisa berkembang tanpa menunjukkan gejala pada tahap awal. Kanker yang memicu gejala yang jelas sejak dini disebut kanker simtomatik. Jenis kanker ini butuh diagnosis yang cepat agar pengobatannya berhasil.


Karena itu, orangtua perlu aware bila menemukan gejala-gejala tak lazim pada anak. Misalnya, sakit kepala, demam yang hilang-timbul, mata tiba-tiba juling, bercak pada kulit, muncul benjolan, nyeri sendi, sesak napas, pendarahan, mudah berkeringat, dan seterusnya. 


Namun, berbagai gejala yang muncul tiba-tiba atau parah, tidak secara otomatis mengindikasikan kanker. Semakin cepat terdiagnosis, semakin cepat anak memulai pengobatan.


Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua?


Selama pengobatan, anak harus sering berhadapan dengan jarum suntik, obat-obatan, dan proses terapi yang panjang. Selama masa itu, orang tua dapat melakukan hal-hal berikut:


1. Beri tahu anak, kondisi yang sebenarnya

Ceritakan kondisi yang sebenarnya kepada anak. Informasi yang benar mendukung pengobatan dan perawatan yang akan dilakukan. Anak menjadi lebih tenang dan tidak bingung atau takut dengan keadaannya.



Berikan juga pengetahuan tentang kanker dan perawatannya. Informasi yang sesuai usia mengurangi rasa takut dan memungkinkan anak mengambil kendali lebih besar atas situasi mereka. 


2. Yakinkan anak bahwa Anda selalu mendampingi

Pengobatan dan perawatan sangat melelahkan bagi anak maupun orang tua. Bawalah boneka atau mainan kesukaan anak saat menjalani proses tersebut. Hal ini akan mengurangi ketakutan anak pada dokter atau rumah sakit. 



Pada tahap perawatan atau pengobatan, emosi anak naik-turun sehingga perlu bantuan dan dukungan orang tua. Berikut berbagai kondisi anak yang perlu mendapat perhatian ekstra: 


  • Tidak bisa berkonsentrasi.
  • Tidak bisa dihibur atau diyakinkan.
  • Merasa jenuh, lelah, dan tidak bergairah.
  • Merasa sedih sepanjang waktu dan sering menangis.
  • Kurang menunjukkan minat pada pekerjaan sekolah, hobi, dan persahabatan. 
  • Memiliki perubahan suasana hati yang parah.
  • Mudah tersinggung, kesal, dan sering marah.
  • Bicara tentang menyakiti diri sendiri karena berpikir bunuh diri.
  • Berperilaku berbeda dari biasanya.
  • Mengalami perubahan berat badan atau nafsu makan yang tidak wajar. 
  • Mengalami sulit tidur yang berlangsung selama lebih dari satu atau dua minggu.

3. Lakukan aktivitas bersama

Orang tua dan teman sebaya anak merupakan sumber motivasi. Aktivitas fisik bersama secara teratur memberikan dukungan emosional kepada anak. Aktivitas fisik juga mendorong hormon endorfin sehingga anak tetap bergembira walaupun sedang sakit.



Pada kondisi ini, anak secara alamiah mengalami keterbatasan fisik. Orang tua perlu memperhatikan efek samping pengobatan, keterbatasan gerak, kehilangan kemandirian, dan motivasi yang rendah sehingga dapat mempertimbangkan aktivitas untuk dilakukan bersama anak.


Apabila kondisi anak cukup baik, biarkan ia bermain bersama rekan sebayanya. Aktivitas ini mendukung anak secara emosional.  Namun, tetap lakukan pengawasan untuk menjaga hal-hal buruk terjadi.


4. Perhatikan nutrisi

Pengobatan kanker menimbulkan berbagai efek samping. Salah satunya kehilangan banyak cairan karena muntah, diare atau kurang minum. Dalam kondisi ini, jangan biarkan anak dehidrasi. Berikan air minum yang cukup. Cairan lain dari jus buah atau sayur, seperti sup, membantu mengatasinya. 



Mendapatkan cukup cairan menghindarkan anak dari sembelit. Sembelit membuat perut begah sehingga anak sulit makan.


Anak terdeteksi kanker juga memiliki kebutuhan nutrisi khusus. Secara umum, kebutuhan protein, karbohidrat, vitamin, mineral, serta lemak sehat meningkat.


Protein membantu anak lebih cepat sembuh dari efek kemoterapi sekaligus mencegah infeksi. Sementara, karbohidrat merupakan bahan bakar tubuh, menyediakan energi untuk sel, dan mempertahankan fungsi organ. 


Lemak sehat membantu tubuh menyimpan energi dan melindungi jaringan tubuh. Lemak juga padat kalori. Hal ini penting bagi anak yang mungkin mengalami penurunan berat badan selama perawatan.


Kanker dan perawatannya menyebabkan sejumlah efek samping, seperti mual, muntah, sariawan, sembelit, dan diare. Anak juga lebih peka terhadap bau atau suhu makanan. Kondisi ini membuat anak kesulitan menelan.


Pada beberapa anak bahkan menyebabkan perubahan pada indra perasa. Anak menjadi tidak berselera makan meskipun pada awalnya menyukai makanan itu.


Konsultasikan kepada dokter, bila anak menjadi sulit makan. 


Selain mendampingi buah hati, jangan lupa juga untuk merawat diri dan beristirahat dengan benar.  


ReferensiP2TM Kementrian Kesehatan RI. Diakses pada 2023. Kenali Gejala Dini Kanker pada Anak. WHO. Diakses pada 2023. Childhood Cancer. Wiley. Online Library. Diakses pada 2023. Childhood cancer survivors' and their parents' experiences with participation in a physical and social intervention during cancer treatment: A RESPECT study.

Artikel Terkait