Apakah Cokelat Buruk bagi Kesehatan Anda?

oleh Sesy Widya Pakpahanbullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Zamzam & Puspa W. Cahyono
Apakah Cokelat Buruk bagi Kesehatan Anda?
Apakah Cokelat Buruk bagi Kesehatan Anda?

Cokelat disukai. Namun, banyak pro-kontra tentang manfaat cokelat. Manakah yang benar?

Cokelat menjadi simbol kasih sayang. Pada hari Valentine, cokelat diberikan kepada orang tersayang. 


Mari kita mengenal cokelat lebih jauh. 


Mengenal cokelat


Cokelat menjadi favorit bukan tanpa sebab. Rasanya lezat. Manfaatnya pun banyak.


Cokelat merupakan hasil olahan biji kakao (Theobroma cacao). Buah kakao bentuknya unik, seperti bulat telur. Warnanya kemerahan atau kecokelatan. Namun, rasanya tidak semanis cokelat yang kita kenal. 


Biji kakao diolah menjadi bubuk atau kristal dan disajikan dalam bentuk makanan atau minuman. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai “cokelat”.


Kandungan nutrisi cokelat


1. Flavonoid

Eric Ding, ilmuwan Departemen Nutrisi dari Harvard School of Public Health, mengatakan biji kakao mengandung flavonoid. 



Flavonoid adalah zat antioksidan untuk melawan radikal bebas yang merusak sel dalam tubuh. Senyawa ini menghasilkan nitrit dioksida. Flavonoid juga mengurangi risiko kolesterol, hipertensi, dan diabetes serta memperlancar peredaran darah. 


Sayangnya, cokelat yang biasa kita temui memiliki kandungan flavonoid berbeda. Berbagai jenis cokelat tersebut telah melalui serangkaian proses yang mengurangi kandungan dan kualitas flavonoid.


2. Gula dan lemak

Biji kakao tidak mengandung gula dan lemak. Sebaliknya, cokelat mengandung gula dan lemak sebagai perasa. Tiap cokelat memiliki kadar kandungan gula dan lemak yang berbeda tergantung jenis dan produknya. 



Berikut perbandingan kandungan gula dan lemak pada beberapa jenis cokelat untuk porsi 100 gram menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat.



Studi menemukan cokelat tidak memengaruhi kenaikan berat badan. Namun, penelitian tersebut dilakukan pada 19 wanita saja. Partisipan penelitian juga menjaga keseimbangan pola makan selama proses penelitian. Misalnya, mengurangi batas kalori harian untuk makanan lain. 


Jadi, hasil penelitian tersebut tidak mengubah fakta tentang tingginya kalori pada cokelat. Kandungan gula dan lemak pada cokelat tetap saja berpotensi menaikkan berat badan.


3. Teobromina

Cokelat mengandung kafein, seperti kopi atau teh. Kafein cokelat disebut teobromina.


Teobromina memiliki sifat anti-inflamasi. Dipercaya menghambat pertumbuhan tumor dan mengatasi masalah pernapasan, seperti asma dan batuk. 



Tabel di atas menunjukkan cokelat hitam mengandung kafein lebih banyak daripada cokelat susu dan cokelat putih. Hal ini karena cokelat hitam lebih banyak mengandung biji kakao daripada jenis cokelat yang lain.


Dilansir dari Healthline, jika sensitif terhadap kafein, Anda mungkin mengalami risiko insomnia jika makan atau minum cokelat hitam terlalu dekat dengan waktu tidur.


Apakah cokelat berbahaya?


Bisa “ya”; bisa “tidak”.


Banyak sumber mengatakan cokelat hitam (dark chocolate) adalah cokelat sehat. JoAnn Manson, Profesor Departemen Epidemiologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, tidak merekomendasikan cokelat hitam sebagai makanan untuk menu sehat meskipun mengandung flavonoid tinggi. Penelitian mengenai manfaat cokelat hitam masih sangat terbatas sehingga perlu diuji kebenarannya. 


Studi Consumer Reports juga menemukan bahwa cokelat hitam mungkin mengandung kadmium dan nikel. Dua logam beracun ini berasal dari sumber industri dan pertanian sehingga bisa menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi. Misalnya, memperlambat perkembangan otak, IQ lebih rendah, bahkan memicu kanker.


Jadi, makanlah cokelat hitam sebagai camilan atau kesenangan kecil saja ya! Dimakan sesekali, sedikit, dan tidak rutin. 


Jadi, bolehkah kita makan cokelat?



Pastikan untuk memperhatikan kandungan gizi dan nutrisi cokelat sebelum membelinya. Ssst, ada istilah-istilah gula yang tersembunyi pada kandungan nutrisinya, seperti karbitol, concentrade fruit juice, glucitol, glukosamina, manitol, sorbitol, atau xilitol.


Bila mengalami gejala tertentu setelah mengonsumsi cokelat, segera periksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui batas konsumsi cokelat yang sesuai kebutuhan Anda.



ReferensiHarvard Health Publishing. Diakses pada 2023. Chocolate: Pros and Cons of The Sweet Treat. Healthline. Diakses pada 2023. Dark Chocolate Is Not a Healthy Food. Medical News Today. Diakses pada 2023. Chocolate: Health Benefits, Facts, Research. WebMD. Diakses pada 2023. Chocolate: Are There Health Benefits?