Yang Harus Perempuan Ketahui tentang Kanker Ovarium

oleh Kristihandaribullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Muthia Trisa Nindita
Cara cegah kanker ovarium.
Cara cegah kanker ovarium.

Setiap perempuan yang memiliki ovarium memiliki peluang terkena kanker ovarium. Meskipun pada beberapa perempuan menjalani pengangkatan ovarium, kanker ini juga dapat memengaruhi tuba falopi dan lapisan di dalam perut (peritoneum).

Ovarium atau indung telur adalah sepasang organ reproduksi wanita yang terletak masing-masing di kiri dan kanan rahim.


Organ yang berukuran sebesar kacang walnut ini berfungsi menghasilkan dan mematangkan sel telur selama masa produktifnya, serta memproduksi hormon progesteron dan estrogen.


Kanker ovarium dapat bermula dari tiga jenis sel utama:


  • Sel germinal: berkembang menjadi sel telur.
  • Sel stroma: membentuk substansi ovarium.
  • Sel epitel: merupakan lapisan luar ovarium.


Fakta kanker ovarium di Indonesia




Kasus kanker ovarium di Indonesia menempati peringkat ke-6 kasus kanker terbanyak. Data Global Burden of Cancer Study 2020 menunjukkan bahwa kasus kanker ovarium di Indonesia mencapai 13.310 kasus dengan 7.842 kematian. Sebanyak 85% ditemukan pada stadium lanjut.


Deteksi dini sangat penting karena dapat meningkatkan peluang kesembuhan hingga 95%. Sayangnya, gejala kanker ovarium sering kali baru disadari pada stadium lanjut sehingga tingkat kematiannya tinggi.


Berikut hal-hal yang perlu diketahui perempuan tentang kanker ovarium:


1. Tak ada gejala khas pada stadium awal

Berbeda dengan kanker lainnya, kanker ovarium pada stadium awal sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda khas.


Kanker ini dapat menyebabkan tuba falopi atau ovarium membesar, tetapi biasanya gejala baru terasa jika terjadi komplikasi, seperti torsi ovarium yang menyebabkan nyeri.


Umumnya, kanker ovarium memiliki gejala berikut


  • perut kembung;
  • gangguan pencernaan, seperti sembelit atau diare;
  • kesulitan makan atau cepat merasa kenyang;
  • sering buang air kecil atau merasa terdesak untuk buang air kecil;
  • nyeri punggung, perut, atau panggul;
  • menstruasi tidak teratur;
  • kelelahan yang terus-menerus;
  • nyeri saat berhubungan seksual;
  • penurunan atau penambahan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

2. Usia dan riwayat keluarga meningkatkan risiko

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, antara lain:


  • Usia: Sebagian besar kanker ovarium terjadi setelah menopause.
  • Riwayat pribadi kanker payudara.
  • Riwayat keluarga dengan kanker: Terutama jika ada anggota keluarga yang mengidap kanker ovarium, payudara, dan kolorektal pada usia muda.
  • Mutasi genetik bawaan: Mutasi pada gen BRCA1 atau BRCA2.
  • Endometriosis.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Menjalani terapi penggantian hormon setelah menopause.

3. Pap smear bukan tes skrining kanker ovarium

Pap smear hanya digunakan untuk mendeteksi kanker serviks, bukan kanker ovarium. Saat ini, belum ada tes yang dapat mendeteksi kanker ovarium pada tahap awal.


4. Pengangkatan tuba falopi mengurangi risiko

Jenis kanker ovarium yang paling umum bermula di tuba falopi. Oleh karena itu, beberapa kasus kanker ovarium dapat dicegah dengan mengangkat tuba falopi, prosedur yang disebut salpingektomi oportunistik.


Studi menunjukkan prosedur ini sangat efektif menurunkan risiko kanker ovarium.


5. Kanker ovarium dapat diobati jika ditemukan dini

Jika kanker ovarium terdekteksi pada stadium awal dan masih terbatas pada ovarium (stadium 1), tergantung pada jenis kanker ovarium, American Cancer Society mencatat bahwa pasien memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun mencapai 93%.


Kanker ovarium biasanya ditemukan ketika sudah menyebar ke panggul, perut, atau bagian tubuh lainnya. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting.



Pencegahan kanker ovarium


Selain pengangkatan tuba falopi beberapa hal dapat dilakukan sebagai pencegahan kanker ovarium:


  • mengonsumsi pil KB kombinasi;
  • tidak melakukan terapi penggantian hormon;
  • menerapkan gaya hidup sehat, khususnya mengonsumsi sayuran, olahraga teratur, tidur yang cukup dan menjaga BB ideal;
  • tidak merokok;
  • pemeriksaan kesehatan berkala terutama jika memang ada riwayat kanker di keluarga.


Pengobatan kanker ovarium


  • Pembedahan merupakan salah satu pengobatan utama untuk kanker ovarium.
  • Dalam beberapa kasus, dokter akan memutuskan apakah pasien perlu menjalani pembedahan terlebih dahulu atau kemoterapi, tergantung pada tingkat keparahan penyakit.
  • Sebelum operasi, dokter melakukan tes pencitraan, seperti CT scan, dan prosedur diagnostik lain.
  • Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah usia, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta penyakit lain yang mungkin diderita pasien.

**


Meskipun kanker ovarium sering kali terdiagnosis pada tahap lanjut, perempuan dapat meningkatkan peluang deteksi dini dengan memahami faktor risiko dan gejalanya.


Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium, konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Kunjungi Klinik GWS Medika, klinik kesehatan di Jakarta, terdekat.

ReferensiCancer Council. Diakses pada 2025. Ovarian Cancer. Healthline. Diakses pada 2025. Treating Ovarian Cancer. Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Diakses pada 2025. 6 Things Women Should Know About Ovarian Cancer NHS. Diakses pada 2025. Ovarian Cancer.