Mengapa Semua Orang Bisa Asma?

oleh Kristihandaribullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Bandoro
Mengapa Semua Orang Bisa Asma?
Mengapa Semua Orang Bisa Asma?

Asma tak pandang usia. Ia bisa menyerang siapa saja. Asma umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik, alergen, atau polusi. Meskipun penyembuhan total belum ada, asma dapat dikendalikan dengan baik menggunakan strategi pengelolaan jangka panjang

Data WHO pada 2019 menyatakan 262 juta penduduk di seluruh dunia menderita asma. Asma telah menyebabkan 455.000 kematian di seluruh dunia. Kematian tertinggi sebagian terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah akibat kurangnya akses terhadap perawatan medis dan diagnosa yang tepat.


Bagaimana dengan Indonesia? Data Kemkes pada 2020 menyatakan asma merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diidap masyarakat Indonesia. Hingga akhir 2020, jumlah penderita asma 4,5% atau 12 juta lebih dari total penduduk Indonesia.


Asma adalah penyakit kronis dan dapat kambuh sewaktu waktu. Asma tidak tergolong penyakit menular. Penyakit ini disebabkan adanya peradangan dan penyempitan saluran udara kecil di paru-paru. Inilah yang menyebabkan penderita asma mengalami sesak napas.


Apa penyebabnya?



Asma menyerang anak-anak hingga dewasa. Penelitian terkini menunjukkan bahwa kondisi ini berhubungan dengan faktor genetik dan lingkungan. Pemicu asma yang paling umum adalah alergi, polusi udara dan iritasi udara lainnya. Selain itu, asma juga dipengaruhi kondisi kesehatan lain termasuk infeksi pernapasan, olahraga atau aktivitas fisik, cuaca dan suhu udara, emosi yang kuat, dan beberapa obat-obatan.


Agar asma tidak kambuh, penderita sebaiknya menghindari paparan asap kimia, asap rokok, dan polusi udara. Hindari juga berolahraga dan beraktivitas fisik saat udara dingin.


Pada beberapa orang, munculnya asma dapat dipicu oleh adanya alergen (zat pemicu alergi), seperti bulu hewan, tungau, debu, dan serbuk sari. Pada beberapa orang lainnya, asma dapat muncul akibat mengonsumsi bahan makanan tertentu seperti selai, udang, kacang-kacangan, makanan olahan, makanan siap saji, minuman kemasan sari buah, bir, dan wine.


Hati-hati. Stres berkepanjangan tanpa kemampuan manajemen stres yang baik dapat meningkatkan kemungkinan kambuhnya asma.


Penderita asma juga harus hati-hati mengonsumsi obat. Terutama obat-obatan pereda nyeri anti-inflamasi non-steroid (NSAID) dan obat penghambat beta (kelompok obat untuk menurunkan hipertensi dan mengobati beragam kondisi pada jantung).


Bagaimana gejalanya?



Gejala asma beragam. Berbeda pada tiap orang. Beberapa orang mengalami gejala sesekali, misal saat berolahraga. Beberapa orang lainnya merasakan gejala sepanjang waktu.


Gejala umum asma meliputi batuk, mengi (wheezing), sesak napas, terkadang dapat menimbulkan nyeri dada. Berikut karakteristik yang dapat menjadi indikator asma:


  1. Gejala memburuk pada pagi atau malam hari.
  2. Gejala bervariasi waktu dan intensitasnya.
  3. Muncul atau memburuk saat penderita terinfeksi virus atau bakteri, seperti pilek/ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
  4. Timbul saat olahraga, alergi, udara dingin, atau perubahan emosi yang kuat seperti stres, tertawa atau menangis berlebihan.

Dapatkah asma dicegah dan disembuhkan?



Hingga kini, asma belum bisa disembuhkan secara total. Namun, dengan kontrol dan pengobatan yang tepat, penderita asma bisa menjalankan aktivitas normal dan memiliki harapan hidup tinggi.


Biasanya, penderita menggunakan obat hirup (inhaler) untuk mengendalikan gejala. Dengan cara ini, mereka bisa melakukan aktivitas normal dan aktif. 


Ada dua jenis inhaler yang dapat digunakan untuk meredakan asma:

  1. Bronkodilator (seperti salbutamol). Berfungsi membuka saluran udara dan meredakan gejala. 
  2. Steroid (seperti budesonide, beklometason). Berfungsi mengurangi peradangan di saluran udara. Ini memperbaiki gejala asma dan mengurangi risiko serangan asma parah dan kematian.

Apakah mengatur pola makan meredakan gejala?



Tidak ada diet khusus yang ditujukan kepada penderita asma. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu:


1. Hindari stres dan usahakan tidur cukup. Hindari bergadang.


2. Mengatur pola makan sehat.

Memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran membantu mengurangi pembengkakan paru-paru dan pemicu alergi. Sayuran dan buah-buahan mengandung antioksidan baik, seperti beta karoten, serta vitamin C dan E. 


3. Hindari makanan dan minuman pemicu alergi.


4. Rajin berolahraga.

Pilihlah olahraga yang tidak memberikan tekanan berlebih pada paru-paru, seperti yoga, berenang, jalan kaki santai, pilates, dan tai chi.


5. Hindari berolahraga saat cuaca dingin.


6. Rutin membersihkan rumah.

Membersihkan rumah dapat menghilangkan berbagai alergen yang mungkin beterbangan di udara dan menempel di permukaan perabot rumah tangga. Gunakan masker dan sarung tangan saat melakukan aktivitas ini.


7. Berhenti atau tidak merokok.

Merokok menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Iritasi ini menimbulkan radang yang memicu asma. Berhenti merokok juga melindungi paru-paru dari berbagai risiko penyakit. Bagi Anda yang tidak merokok, hindari paparan asap rokok dan polusi udara.


8. Penuhi kebutuhan vitamin D.

Mengonsumsi makanan, seperti telur, ikan, susu, dan berjemur di bawah sinar matahari dapat mencegah munculnya gejala asma.


9. Jaga berat badan ideal.

Kelebihan berat badan memicu asma. Pelajari pola makan yang benar untuk menjaga kondisi tubuh lebih sehat pada jangka panjang.


Bagi sebagian orang, asma adalah gangguan kecil. Bagi yang lain, bisa menjadi masalah besar yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan serangan asma dapat mengancam jiwa.


Penting bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini bermanfaat untuk melacak tanda dan gejala, serta menyesuaikan perawatan.


Jika Anda merasakan tanda dan gejala asma, klik WhatsApp untuk mendapatkan layanan konsultasi. Anda juga dapat mendatangi klinik GWS Medika terdekat.


ReferensiAsthma and Allergy Foundation of America. Diakses pada 2023. What Are Asthma Triggers? Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Asthma: Symptom and Causes. Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Asthma Diet: Does What You Eat Make Difference? WHO. Diakses pada 2023. Asthma. Yankes. Diakses pada 2023. Asma.