Mengapa Makanan Sehat Mahal?

oleh Sesy Widya Pakpahanbullet
Bagikan artikel ini
Ditinjau oleh dr. Zamzam, dr. Koh Hau-Tek & Puspa W. Cahyono
Mengapa Makanan Sehat Mahal?
Mengapa Makanan Sehat Mahal?

Harga menu makanan sehat sekitar Rp50.000 per porsi. Namun, hanya perlu Rp10.000 untuk seporsi mi instan dengan telur. Hmm, mengapa makan sehat harus semahal itu?

Makanan sehat mahal. Begitu anggapan banyak orang. Tunggu dulu. Makanan sehat apa yang dimaksud? Apakah makanan yang dijual di restoran bintang lima? Apakah produk segar yang dijual di supermarket? 


Mari kita satukan pemahaman. Makanan sehat yang dimaksud adalah makanan dengan nutrisi seimbang yang diperlukan tubuh agar tetap sehat. Makanan itu, tentu saja, aman, segar, dan bergizi tinggi. 


Benarkah makanan sehat mahal?


Penelitian di Inggris menemukan bahwa sejak 2002, makanan sehat secara konsisten lebih mahal daripada makanan kurang sehat. Dari studi tersebut, ditemukan bahwa 39% responden menilai harga sebagai faktor terpenting dalam pemilihan makanan. Hanya 9% responden yang menganggap kesehatan makanan sebagai faktor paling penting. 


Ternyata ini bukan penelitian pertama, lo.


Para peneliti dari Harvard University menemukan hal yang sama! Pola makan sehat (buah, sayur, dan ikan) lebih mahal secara signifikan daripada pola makan tidak sehat (makanan olahan). Kalau dihitung, biaya pola makan sehat per hari sekitar Rp22.000 lebih mahal daripada pola makan tidak sehat. 


Kelly Haws, profesor dari Vanderbilt University, mempelajari cara pikir seseorang mengenai hubungan antara nutrisi dan harga makanan. Temuannya menunjukkan, beberapa orang tidak ingin makan sehat karena mahal. “Lebih baik konsumsi makanan murah dan tidak terlalu bergizi. Lebih sesuai kemampuan kami,” begitu kesimpulannya.


Hati-hati. Pandangan yang keliru tentang harga makanan berisiko pada kondisi kesehatan kita pada masa depan. Seiring meningkatnya jumlah penyakit kronis, biaya perawatan kesehatan tahunan untuk individu tersebut juga meningkat.


Seperti kata pepatah. “Bukan untung, malah buntung”.


Keengganan membeli makanan sehat karena menilainya mahal memang menyelesaikan masalah pada saat ini. Namun, pada masa depan, justru mengundang masalah. 


Tapi, kenapa ya makanan sehat itu mahal?


Ini beberapa penyebabnya!


1. Musim

Beberapa buah dan sayur bersifat musiman. Tumbuh pada waktu-waktu tertentu. Nah, saat sedang tidak musim, seperti barang langka. Seringkali diperebutkan. Misalnya, bawang merah dan stroberi.


2. Wilayah

Beberapa sumber pangan hanya ada di wilayah tertentu. Misalnya, alpukat mentega sulawesi dari Sulawesi, matoa dari Papua. Karena itu, di tempat lain harganya lebih mahal dibanding di daerah asalnya.


3. Iklim

Kondisi iklim memengaruhi kualitas pangan. Musim kemarau berkepanjangan. Atau, musim penghujan yang tak kunjung henti. Penanaman menjadi lebih sulit. Risiko gagal panen meninggi. Akibatnya, sumber pangan yang berhasil bertahan dinilai tinggi harganya. 


4. Pupuk

Bahan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pupuk diperlukan agar buah, sayur, dan tanaman pakan tumbuh subur. Kualitas lebih terjamin. Namun, pupuk yang berkualitas membutuhkan biaya lebih besar. Hal ini menyebabkan harga akhir produk lebih mahal.


5. Transportasi

Produsen harus mengeluarkan biaya untuk mengangkut bahan pangan dari wilayah tertentu. Belum lagi, jika daerah asal dan tujuan jauh. Dibutuhkan transportasi yang dapat menjaga kualitas pangan. Apalagi kalau harga bahan bakar naik. Dampaknya? Harga akhir semakin tinggi.


6. Pertumbuhan penduduk

Meningkatnya angka kelahiran manusia menyebabkan permintaan makanan ikut meningkat. Dalam konsep ekonomi, kondisi ini disebut permintaan tinggi, penawaran rendah.  


Terjadi ketika kebutuhan untuk suatu produk meningkat, tetapi produk terbatas. Biasanya, produsen akan menaikkan harga produk. Kelangkaan produk bukanlah alasan satu-satunya. Produsen tahu bahwa produk itu tetap laku karena dibutuhkan.


7. Tidak produksi massal

Petani menanam sesuai kondisi lahan pertanian. Peternak memelihara sesuai luas peternakan mereka. Mereka perlu memperhitungkan dengan baik sumber daya yang dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan.


8. Biaya penyimpanan

Bahan pangan segar rentan busuk. Hal ini yang membedakan harga jual di toko dan pasar. Bahan pangan di toko disimpan dalam lemari pendingin agar tahan lama. 


Faktanya, biaya untuk keperluan ini menghabiskan seperempat biaya pengeluaran toko. Untuk menutupinya, tentu, toko akan mengenakan harga produk lebih tinggi kepada konsumen.


9. Umur simpan pendek

Makanan organik memiliki umur simpan pendek. Mereka cepat busuk dan rusak. Berbeda dengan makanan olahan. Dipenuhi dengan bahan pengawet dan kimia yang menjaganya agar tidak rusak. 


Dengan kata lain, makanan ini jauh lebih sehat dan aman untuk kita konsumsi sehingga menambah nilai jualnya.


Makan sehat dengan hemat


Tenang saja. Kita tetap bisa makan sehat, kok. Berikut beberapa rekomendasi dari kami.


1. Perhatikan porsi


Memang benar, 120 gr keripik (Rp21.000) harganya lebih murah daripada 1 kg apel fuji (Rp25.000). Tapi, manakah yang paling bermanfaat bagi kesehatan Anda pada masa depan? Anda tahu jawabannya.


2. Buat rencana makan


Tulis rencana makan mingguan (meal plan). Apa yang akan Anda makan minggu ini? Buatlah juga daftar belanja. Hal ini membantu Anda mengetahui produk yang ingin dibeli dan menentukan bujet belanja.


3. Konsumsi produk musiman


Buah dan sayuran musiman lebih murah daripada di luar musimnya. Mengapa? Produk musiman ini dipanen pada puncak kematangan. Jumlahnya pun jauh lebih banyak. Buah dan sayur yang dipetik pada musimnya juga terasa lebih enak! 


4. Konsumsi protein alternatif


Protein tidak hanya daging, ikan, atau ayam. Protein dapat diperoleh dari nabati atau hewani. Protein nabati lebih murah daripada protein hewani, lo. Protein nabati, seperti kacang, buncis, tahu, atau tempe kaya akan serat, vitamin, dan mineral. 


5. Beli dalam jumlah banyak


Harga makanan yang dibeli dalam jumlah banyak biasanya lebih murah. Misalnya, kacang-kacangan atau biji-bijian. Hindari membeli makanan dengan umur simpan lebih pendek dalam jumlah besar, ya, seperti telur, daging, atau susu.


6. Simpan makanan dengan benar


Makanan bertahan lebih lama jika disimpan dengan benar. Misalnya, menyimpan susu atau daging di kulkas. Jika menyimpan daging mentah di kulkas, pastikan memisahkannya dari makanan lain, ya. Daging mentah mengandung berbagai jenis bakteri yang bisa mengontaminasi makanan lain. 


7. Pertimbangkan porsi makanan


Ada kalanya kita mengonsumsi makanan yang bisa disimpan atau dibagi untuk dimakan kembali. Misalnya, sup atau telur rebus. Simpanlah di kulkas. Namun, pastikan sudah membaginya di wadah terpisah terlebih dulu, ya. Makanan tersebut masih baik dikonsumsi 2—3 hari saja. 


8. Olah makanan di rumah


Daripada makan di restoran atau membeli makanan kemasan, lebih baik mengolah makanan di rumah. Salah satu cara makan sehat dengan hemat. Kita pun memiliki kendali penuh atas apa yang kita sajikan di piring makan. 


9. Kurangi minyak


Konsumsi makanan berminyak meningkatkan risiko obesitas dan penyakit jantung. Lebih baik konsumsi makanan yang direbus, dipanggang, atau dipepes. Bila ingin menggunakan minyak, gantilah dengan margarin, minyak kelapa, atau minyak zaitun.


Berbagai kondisi di atas itulah yang menyebabkan makanan sehat mahal. Berita baiknya, ada juga makanan sehat yang murah, lo! Misalnya, pecel, gado-gado, dan sup sayuran.


“Kamu adalah apa yang kamu makan”. Makanan sehat tidak harus mahal. Lebih mahal tidak sama dengan lebih sehat. Bijaklah saat berbelanja. Pastikan makanan yang Anda konsumsi bersih dan bergizi, ya!


ReferensiHarvard. T.H. Chan. Diakses pada 2023. Eating Healthy VS. Unhealthy Diet. Healthline. Diakses pada 2023. Healthy Eating Doesn’t Have to be Expensive. Nicswell. Diakses pada 2023. ‘Healthy Foods Expensive’ Claim Is Unrealistic. Safefoods. Diakses pada 2023. What Does Healthy Food Mean? Utah State University. Diakses pada 2023. Does Healthy Eating Cost More? The Cold Wire. Diakses pada 2023. Why Is Healthy Food so Expensive? WebMD. Diakses pada 2023. Is Healthy Eating More Expensive?